
Pertunjukan ini menampilkan aneka olah seni yang dibawakan para siswa dari kelas 1-6, mulai dari musik kolintang, paduan suara, tari, dan drama yang dimainkan oleh siswa kelas 5 dan 6. Aloysius Art Fest ini dilaksanakan bersamaan dengan penerimaan rapor siswa, dan digelar atas panggung di halaman sekolah, Rabu 17 Juni 2026.
Pada perhelatan Aloysius Art Fest ini juga diluncurkan Mars Sekolah untuk yang pertama kali. Mars Sekolah ini menjadi lagu yang lama dirindukan dan menjadi kebanggaan sekolah. Hadir dalam Aloysius Art Fest ini RP Stephanus Rudy Sulistijo, CM., perwakilan unit sekolah di bawah Yayasan Lazaris di Surabaya, dan para orang tua wali murid.
Pada gelaran drama berjudul “Lutung Kasarung, Menemukan Purbasari di Ruang Kelas Kita” merupakan kolaborasi dengan Universitas Negeri Surabaya (Unesa) sebagai pengiring, serta SMKK St. Louis Surabaya sebagai pengatur suara.

Kepala SDK St. Aloysius, Waluyanto Nugroho, mengatakan bahwa melalui Aloysius Art Fest 2026 ini semua yang hadir sedang merayakan proses kehidupan.
“Kita diajak untuk melihat kembali kekayaan budaya bangsa Indonesia, yang tertuang dalam cerita rakyat yang masih akrab di telinga kita, salah satunyan kisah Lutung Kasarung,” kata Kepala Sekolah.
Kisah Lutung Kasarung bukan sekadar cerita tentang putri yang terbuang dan seekor kera hitam yang buruk rupa. Namun, dapat dimaknai sebagai metafora yang luar biasa bagi dunia pendidikan. Waluyanto Nugroho menyebut, pendidikan merupakan proses yang melampaui “wujud luar”.
“Di awal perjalanan, bakat, potensi, bahkan karakter anak didik kita mungkin masih tersembunyi di balik ‘wujud kasar’ yang belum ditempa. Tugas Pendidikan adalah melihat melampaui apa yang tampak di mata,” ujar Pak Nunung, sapaan akrabnya.

Selain itu, dalam cerita juga mengisahkan bagaimana putri Purbasari harus diasingkan di hutan hingga diracun, tapi tetap memiliki kebaikan hati. Hutan justru menjadi simbol “laboratorium kehidupan” yang mengajarkan mengenai bertahan, beradaptasi, dan tetap berkarya dalam keterbatasan.
“Dunia pendidikan hari ini adalah hutan tersebut. Kita menantang siswa-siswi kita untuk keluar dari zona nyaman, menghadapi kegagalan, dan terus mencoba,” lanjutnya.
Karya seni yang dipajang di Artfest hari ini merupakan bukti dari air mata, keringat, dan rasa frustrasi yang berhasil diubah menjadi keindahan, yang menjadi perwujudan dari resiliensi.

Pada akhir cerita, Lutung Kasarung membuatkan sebuah telaga yang airnya menyembuhkan seluruh penyakit kulit Purbasari dan mengembalikan kecantikannya, bahkan jauh lebih bersinar dari sebelumnya. Bagi dunia pendidikan, Seni adalah Telaga Penyembuh itu. Ketika akademis membuat jenuh, ketika tekanan ujian membuat penat, seni hadir sebagai ruang bagi jiwa untuk membasuh diri.
“Seni memberikan ruang bagi mereka yang mungkin tidak bersinar di atas kertas ujian, untuk bersinar terang di atas panggung budaya. Seni, seperti halnya pendidikan, tidak pernah ramah pada kepalsuan. Ia menuntut kejujuran proses,” tandas Pak Nunung.
Koordinator Kegiatan, Benediktus Januarius, menilai tampilan anak-anak sudah maksimal, meski ada kekurangan di sana-sini termasuk hal teknis.
“Anak-anak sudah tampil maksimal, dan menikmati acara,” kata Benediktus Januarius. (Petrus Riski)

