
Para siswa diajak untuk mengingat sekaligus merenungkan kembali sengsara Yesus sepanjang jalan salib yang dilaluiNya, hingga menuju tempat wafatNya di puncak golgota. Sebanyak 14 perhentian jalan salib menjadi sarana bagi manusia, untuk mendalami betapa besar cinta Yesus pada manusia yang penuh dosa.
“Jalan salib ini merupakan kegiatan mengisi masa prapaskah, untuk mengingatkan pada kita semua betapa kasih Yesus merupakan dasar bagiNya melakukan penebusan mulia ini,” kata Dionisia Sri Mulyaningsih, Guru SDK St. Aloysius.

Sambil berbaris tertib, para siswa mengikuti perarakan salib yang berhenti di setiap perhentian, sambil memanjatkan doa dan menyenandungkan lagu yang menggambarkan perjalanan sengsara Yesus di jalan salibNya. Di depan gua Maria, perarakan berakhir dengan peristiwa Yesus wafat disalib dan dimakamkan.
“Jalan salib ini memberi pesan bagi kita semua, khususnya para siswa, agar saling mengasihi dan saling mendukung satu sama lain,” ujar Bu Ningsih, sapaan akrabnya.

Jalan salib selama kurang lebih 45 menit ini diikuti siswa kelas 3 sampai 6 dan didampingi oleh Bapak dan Ibu Guru. Sedangkan siswa kelas 1 dan 2 tidak mengikuti ibadat jalan salib karena sedang menempuh ujian Sumatif Tengah Semester Computer Base Test (STS-CBT). (Petrus Riski)

