Peringati Hari Buku Nasional, Melalui Dongeng dan Membaca Buku di Mobil Perpustakaan Keliling

Surabaya – Dua mobil dengan gambar aneka warna terparkir di halaman SDK Santo Aloysius Surabaya, Senin 18 Mei 2026. Mobil yang sudah dimodifikasi bagian kabinnya dengan tulisan Mobil Darling-Dongeng Anak dan Remaja Keliling, dan Moco Buku Nambah Ilmu, adalah milik Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur. Kedatangan dua mobil ini ke sekolah dalam rangka memperingati Hari Buku Nasional, yang jatuh setiap tanggal 17 Mei.
Anak-anak antusias membaca di dalam mobil perpustakaan keliling yang singgah di halaman sekolah (Foto: Petrus Riski)

Setelah bagian samping dan belakang mobil itu dibuka, tampaklah deretan buku cerita dan aneka pengetahuan tersusun rapi di rak yang ada di dalam mobil perpustakaan keliling itu. Tidak lama kemudian anak-anak mulai kelas 1 hingga kelas 6 menyerbu kedua mobil perpustakaan keliling itu, dan memilih buku yang menarik untuk dibaca. Senyum ceria dan antusias tampak dari wajah anak-anak sekolah dasar ini, karena mendapatkan buku bacaan yang belum pernah dibaca sebelumnya.

“Perpustakaan keliling ini sengaja didatangkan dalam rangka Hari Buku Nasional, sekaligus Hari Pendidikan Nasional. Anak-anak dapat memilih buku yang disukai, agar menambah pengetahuan dari membaca buku,” kata Stephanus Tri Ariwibowo, Guru SDK Santo Aloysius, selaku penanggung jawab kegiatan Hari Buku Nasional.

Ada yang duduk di dekat mobil perpustakaan keliling, ada yang duduk di lantai, ada pula yang duduk di bawah pohon. Semuanya membawa dan membaca buku yang sudah dipilihnya. Meski waktunya tidak banyak, kesempatan membaca buku dari mobil perpustakaan keliling ini cukup menggembirakan anak-anak, yang masih jarang mendapatkan buku-buku bacaan baru.

Pustakawan Ahli Muda di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur, Wempi Roberto mengatakan, kegiatan membaca buku sangat baik untuk mengedukasi anak-anak mengenai berbagai wawasan dan ilmu yang baru diperoleh melalui membaca. Dengan membaca, anak-anak dapat mengetahui apa yang di seluruh dunia meskipun berada di tempat yang jauh sekalipun.

“Dengan membaca, kosa kata anak-anak ini tentunya akan bertambah, karena bahasa merupakan ilmu yang berperan penting untuk tumbuh kembang anak,” kata Wempi Roberto.

Total terdapat lebih dari 2.000 buku bacaan yang dibawa dalam dua mobil perpustakaan keliling, mulai dari cerita anak, komik, ilmu pengetahuan untuk anak sekoah dasar, hingga buku-buku dongeng.

“Buku dongeng ini baik sekali untuk memberikan wawasan bagi anak agar mengerti dan memahami makna dari cerita atau dongeng yang memiliki nilai moral tertentu,” ujar Wempi.

Meski buku sangat penting dalam mendidik dan mencerdaskan generasi penerus bangsa, namun keberadaan gadget atau alat komunukasi digital yang modern menjadi tantangan tersendiri bagaimana mengenalkan dan mengajarkan anak mencintai buku. Maka gerakan membaca buku harus lebih masif dilakukan, khususnya kepada anak sejak usia dini. Tujuannya agar anak memiliki imajinasi dan kreativitas, yang hanya dimiliki dengan membaca buku.

“Tanyangan kita ndi dunia perpustakaan ya keberadaan HP. Padahal membaca di HP dengan di buku mempunyai sensasi tersendiri yang tidak bisa dirasakan bila membaca melalui HP,” imbuh Wempi.

Selain kedatangan dua mobil perpustakaan keliling, peringatan Hari Buku Nasional juga dimeriahkan dengan Mendongeng bersama Kak Tobi bersama boneka monyet yang selalu menemani. Semua siswa dari kelas 1 sampai 6 berkumpul di aula lantai 2, dan mendengarkan dongeng mengenai Ki Haar Dewantara, bapak pendidikan nasional Indonesia.

Mendongeng menjadi salah satu sarana mengajarkan nilai-nilai kehidupan kehidupan kepada anak, yang lebih mengena dibandingkan hanya melalui pengajaran biasa di depan kelas. Maka, orang tua juga didorong untuk kembali memanfaatkan mendongeng kepada anak, sebagai sarana menyampaikan pesan moral dan pendidikan kepada anak dengan lebih menarik.

“Anak-anak antusias sekali mendengarkan dongengnya, seru, menarik dan lucu,” ujar Jolanovia, salah satu guru yang mendampingi aktivitas mendongeng. (Petrus Riski)