
Kolaborasi dua mata pelajaran ini diampu oleh guru kelas masing-masing yaitu, Rissa Patriasari dan Katarina Septiana Kusumawati. Aktivitas membuat wayang kulit dari kertas yang diwarnai ini dilakukan dalam rangkan pemenuhan tugas mata pelajaran Seni Rupa, berupa wayang sederhana, serta pelajaran Bahasa Jawa berupa percakapan menggunakan bahasa Jawa saat pementasan wayang.
“Cerita yang diangkat tentang Ramayana, jadi anak-anak membuat karakter pewayangan Ramayana, seperti Rama, Shinta, Hanoman, Rahwana, dan sebagainya,” kata Wali Kelas IV B, Rissa Patriasari.

Kegiatan yang berlangsung di dalam kelas IV A dan IV B ini seluruhnya diikuti 39 siswa. Setelah siswa menyelesaikan karakter pewayangan yang ditugaskan, maka wayang-wayang kertas ini dipentaskan secara berkelompok menurut pembagian perannya. Pelajaran ini mempunyai makna agar siswa dapat semakin kreatif, serta mampu menggunakan unggah-ungguh basa, atau tata krama dalam berbahasa.
“Peran orang tua sangat penting pada tahap ini, karena pelajaran di dalam kelas akan semakin efektif bila didukung dengan pembelajaran dari orang tua kepada anak saat di rumah,” imbuh Rissa.

Melaui pembelajaran ini, anak-anak diharapkan dapat turut serta melestarikan budaya daerah, untuk memperkaya khasanah pengetahuan serta kecintaan terhadap tanah air dan bangsa.
“Dengan demikian siswa dapat menghargai nilai luhur kearifan lokal sesuai dengan integrasi pelajaran IPAS di kelas IV ini, yaitu keberagaman budaya dan kearifan lokal,” lanjutnya.

Sementara itu, Wali Kelas IV A, Katarina Septiana Kusumawati, menuturkan, melalui pembelajaran membuat wayang shadow puppet ini, anak dapat belajar dengan seru dan menyenangkan, sekaligus melatih anak untuk berani menampilkan karya dan kreativitasnya.
“Melalui pembelajaran ini, diharapkan dapat melatih siswa menjadi lebih berani berekspresi untuk mempresentasikan hasil karyanya di depan kelas,” tandas Katarina. (Petrus Riski)

