Pameran pendidikan sekolah-sekolah Katolik ini menjadi keinginan Uskup Surabaya, yang dilaksanakan untuk melihat kembali sejauh mana signifikansi dan relavansi karya pendidikan Katolik di masa kini.
“Apakah masih signifikan pendidikan Katolik, apakah masih relevan pendidikan Katolik. Itu pertanyaan yang ingin dijawab pada waktu Musyawarah Pendidikan tahun lalu (2025), sekaligus dalam rangka 100 tahun karya pendidikan Keuskupan Surabaya, berdirinya Yayasan Yohanen Gabriel,” kata Mgr. Agustinus Tri Budi Utomo, pada sambutannya membuka Expo Pendidikan Katolik 2026.
Uskup Surabaya yang akrab disapa Romo Uskup Didik, bercerita singkat mengenai sejarah berdirinya sekolah Katolik yang pertama di Surabaya, yang dibawa oleh suster-suster Ursulin, dan para bruder Congregasi St. Aloysius pada sekitar 1860. Seiring berkembangnya zaman dan berjalannya waktu, banyak sekolah Katolik yang lahir dan mati akibat kurangnya jumlah murid, serta diiringi berkembangnya sekolah negeri dan swasta lainnya.

Keprihatinan ini ditangkap dalam musyawarah pendidikan yang merumuskan 7 harapan masyarakat terkait sekolah Katolik. Ketujuh harapan itu antara lain; sekolah Katolik masih dibutuhkan karena perlunya penguatan pendidikan karakter bagi masyarakat, sekolah Katolik masih dibutuhkan untuk menjaga identitasnya yang jelas sehingga kontribusinya bagi masyarakat juga jelas. Selain itu, tantangan saat ini muncul dari kualitas atau mutu pendidikan sekolah Katolik yang perlu ditingkatkan, selain sarana prasarana sekolah-sekolah Katolik yang dirasa sungguh memprihatinkan
“Maka saat ini dibutuhkan solidaritas untuk mengembangkan sarana prasarana,” ujar Uskup Didik.
Sekolah Katolik, lajut Uskup Didik, perlu semakin mengembangkan pendidikan yang inklusif bagi masyarakat, sehingga banyak orang miskin yang tetap dapat bersekolah di sekolah Katolik.
“Perlunya solidaritas, subsidiaritas, beasiswa yang didukung oleh umat Katolik dan masyarakat, serta pengusaha-pengusaha Katolik untuk peduli pada pendidikan anak-anak orang miskin,” lanjut Uskup Didik.

Tidak hanya itu, keberadaan sekolah Katolik masih tetap dibutuhkan sebagai tempat yang khusus untuk membina iman dan karakter kristiani, khususnya bagi anak-anak Katolik. Pameran pendidikan ini, lanjut Uskup, merupakan tindak lanjut dari usulan musyawarah pendidikan mengenai perlunya ruang promosi bersama.
“Ruang promosi bersama, sehingga sekolah Katolik bukan saling menjatuhkan satu sama lain, sekolah Katolik harus saling mendukung, bahkan hadir secara bersama-sama, bermanfaat bagi masyarakat, bagi bangsa,” papar Uskup Surabaya.
Usai pembukaan Expo Pendidikan 2026 ini, Uskup Surabaya beserta tamu undangan berkeliling stand sekolah-sekolah Katolik di Keuskupan Surabaya, yang dikelompokkan dalam yayasan-yayasan yang menaungi sekolah-sekolah maupun perguruan tinggi Katolik. Sekolah-sekolah di bawah naungan Yayasan Lazaris, yaitu SMAK St. Louis, SMAK St. Louis 2, SMKK St. Louis, dan SDK St. Aloysius Surabaya, turut meramaikan pameran pendidikan ini.
Pada pameran pendidikan kali ini, disajikan pula talkshow yang menghadirkan sejumlah tokoh, diantaranya Romo Frans Magniz Suseno, Anita Lie, Romo Benny Suwito, Albert dari Jalakasih, yang dipandu oleh Olga Lidya. Selain itu, ada banyak lomba yang menyemarakkan pameran pendidikan, sebagai wadah kreativitas, mengasah sportivitas, serta menyalurkan bakat siswa di bidang seni. Lomba yang mempertemukan siswa-siswi sekolah Katolik di Keuskupan Surabaya ini, ingin mempertemukan dan mempererat siswa-siswi dan sekolah Katolik mulai jenjang TK, SD, SMP, SMA, hingga Perguruan Tinggi.
Melalui kehadiran sekolah-sekolah Katolik pada pameran kali ini, diharapkan para orang tua khususnya umat Katolik dapat menyekolahkan anak-anak mereka di sekolah Katolik. (Petrus Riski)

