
Usai senam sehat, para siswa diajak masuk ke dalam aula di lantai 2, untuk mendengarkan penyuluhan mengenai pentingnya menjaga kebersihan gigi dan mulut, yang dibawakan oleh drg. Claudia Jeivinda Meirita, selaku dokter Yayasan Lazaris. Para siswa diberi pemahaman mengenai dampak bagi kesehatan bila tidak rajin menyikat gigi, maupun menjaga kesehatan mulut.
Setelah penyuluhan selesai, anak-anak diajak turun ke halaman untuk sikat gigi bersama seluruh siswa. Pada praktik menyikat gigi, para murid juga diajarkan cara menyikat gigi secara benar, terutama untuk menjangkau bagian gigi dan gusi yang sering menjadi tempat tertinggalnya sisa makanan.
“Ada 187 sikat gigi yang disiapkan sekolah untuk anak-anak. Setelah dipakai, bisa dibawa pulang,” kata Paulus Pekut Raja Ama Irak, selaku koordinator kegiatan Hari Kesehatan Gigi dan Mulut Nasional di SDK St. Aloysius Surabaya.

Kepala SDK St. Aloysius Surabaya, Waluyanto Nugroho berpesan, Kegiatan Hari Kesehatan Gigi dan Mulut ini sangat baik dan bermanfaat bagi peserta didik, agar anak-anak mendapatkan pengetahuan tentang pentingnya menjaga kesehatan gigi dan mulut, sekaligus belajar secara langsung bagaimana cara menggosok gigi yang benar.
“Kebiasaan sederhana ini perlu ditanamkan sejak dini karena kesehatan gigi dan mulut merupakan bagian penting dari kesehatan tubuh secara keseluruhan,” kata Pak Nunung sapaan akrab Kepala Sekolah.
Melalui kegiatan ini, anak-anak semakin sadar bahwa menjaga kesehatan gigi bukan hanya dilakukan ketika gigi terasa sakit, tetapi harus menjadi kebiasaan setiap hari terutama setelah sarapan dan sebelum tidur. Melalui gigi yang sehat, anak-anak diharapkan tumbuh menjadi pribadi yang sehat, percaya diri disiplin, dan mampu bertanggung jawab terhadap kesehatan dirinya sendiri.
“Gigi sehat, senyum cerah, tubuh sehat, belajar pun semakin semangat,” pungkasnya.

Kesehatan tubuh ternyata tidak dapat dilepaskan dari cara kita menjaga kesehatan gigi dan mulut. Melalui gigi berlubang dan gusi yang sakit, dapat masuk sejumlah kuman dan bakteri penyebab penyakit pada tubuh manusia. Hari Kesehatan Gigi dan Mulut Nasional yang diperingati setiap 12 September menjadi sarana untuk mengedukasi dan meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya menjaga kebersihan gigi dan rongga mulut.
Data Kementerian Kesehatan pada 2025 menyebutkan, terdapat 57 persen penduduk berusia di atas tiga tahun mengalami masalah pada gigi. Dari angka itu, hanya sekitar 11,2 persen yang mencari pengobatan. Kasus gigi berlubang (karies) dan penyakit gusi (periodontal), menempati urutan teratas yang banyak dikeluhkan masyarakat dari berbagai jenjang usia. Masalah gigi juga banyak ditemukan pada anak usia sekolah. Menurut catatan dari program Cek Kesehatan Gratis Anak Sekolah hingga Agustus 2026, karies gigi atau gigi berlubang menjadi temuan kesehatan tertinggi dengan angka 40,9 persen secara nasional.
Kondisi ini menegaskan bahwa menjaga kesehatan gigi tidak hanya dilakukan ketika sudah muncul rasa sakit. Pemeriksaan dan perawatan secara rutin perlu dilakukan oleh setiap orang, terlebih pada anak-anak, agar dapat dilakukan pencegahan dan penanganan lebih cepat bila muncul masalah pada kesehatan gigi. (Petrus Riski)

