Pesan Melestarikan Alam dan Satwa di Hari Cinta Puspa Satwa Nasional

Surabaya – Teriakan tanda sukacita memenuhi aula SDK St. Aloysius Surabaya, saat badut satwa memasuki ruangan, diikuti tim dari Jasa Konservasi Satwa (Jakonsat). Gerak lucu badut satwa jenis rusa menarik perhatian para siswa, yang memperingati Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional, setiap 5 November.

Tim dari Jakonsat mengenalkan satwa jenis ular kepada siswa SDK St. Aloysius (Foto-Petrus Riski)

Drh. Faisol selaku pimpinan rombongan dari Jakonsat, menyapa para siswa yang duduk rapi di lantai aula sekolah. Peringatan Hari Cinta Puspa Satwa Nasional mengajak siswa untuk lebih mengenal serta mencintai flora dan fauna endemik Indonesia, seperti satwa komodo, elang jawa, orangutan, dan flora seperti melati, anggrek, dan raflesia arnoldi.

“Menjaga satwa dan tumbuh-tumbuhan dapat dimulai dari hal-hal kecil di sekitar kita,” kata drh. Faisol.

Siswa SDK St. Aloysius Surabaya mendapat edukasi mengenai bagaimana menjaga dan melestarikan satwa serta alam sekitar pada Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional (Foto-Petrus Riski)

Khusus untuk satwa, drh. Faisol berpesan agar semua siswa yang memiliki hewan peliharaan, harus mampu merawat dan menjaga hewan yang dipelihara dengan menerapkan prinsip kesejahteraan satwa.

Sejumlah siswa berinteraksi dengan satwa jenis burung hantu pada Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional (Foto-Petrus Riski)

“Satwa harus bebas dari rasa sakit, bebas dari rasa takut, bebas dari rasa haus dan lapar, bebas dari rasa tidak nyaman, dan bebas mengekspresikan diri sesuai perilaku aslinya di alam,” ujarnya.

Selain memberi edukasi tentang puspa dan satwa, khususnya bagaimana memastikan lingkungan tempat hidup satwa terjaga dengan baik dan tidak dirusak, Jakonsat juga mengajak siswa menjawab pertanyaan dengan memberi hadiah bagi yang berhasil menjawab dengan benar.

Mengenal reptil seperti iguana dan panana dapat menjadi media belajar dan pesan untuk menjaga kelestarian satwa (Foto-Petrus Riski)

Sedikitnya 17 individu satwa, mulai dari ular python, iguana, gecko, kura-kura, burung hanti, marmut, landak mini, kadal panana, hingga tikus putih, dihadirkan agar dapat berinteraksi dengan para siswa. Anak-anak dapat menyentuh langsung satwa yang tidak selalu dapat dijumpai seperti hewan peliharaan di rumah, dan mengenal secara langsung bentuk tubuhnya. Antusiasme para siswa terlihat saat satwa dapat disentuh, dan dapat diajak berfoto bersama.

Kepala SDK St. Aloysius Surabaya, Waluyanto Nugroho, mengatakan bahwa semua manusia diajak untuk mencintai puspa dan satwa sebagai sesama ciptaan Tuhan yang baik adanya. Keberadaan alam tidak hanya untuk dinikmati hasilnya, tetapi juga harus dipelihara dan dicintai. Tindakan sederhana dapat dilakukan dengan menyirami dan merawat tanaman, mengambil sampah yang ada di sekitar, serta tidak berburu atau menyakiti satwa.

Satwa kura-kura dan marmut diberi pakan sayuran oleh sejumlah siswa (Foto-Petrus Riski)

“Mari menjadi pribadi yang mencintai dan peduli terhadap puspa dan satwa, yang berarti bertanggung jawab pada kelestariannya,” ajak kepala sekolah. (Petrus Riski)